Peranan dan Strategi Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Mungkin  kamu pernah memandangi pepohonan yang rimbun di area perbukitan sekitar sekolah kita, atau mendengarkan riuhnya suara serangga dan burung di pagi hari? Semua kehidupan yang saling terhubung itu adalah wujud nyata dari Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas). Sayangnya, kekayaan alam ini bisa perlahan menghilang jika kita hanya asyik melihat layar gadget dan mengabaikan apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Mari kita bongkar mengapa keragaman flora dan fauna ini sangat penting bagi hidup kita dan bagaimana cara Indonesia melestarikannya.

Ekosistem perbukitan yang menjaga keseimbangan alam, buatan AI

Foto 1 : Ekosistem perbukitan yang menjaga keseimbangan alam. Sumber: Randy Riski / 500px / Getty Images

Peranan Keanekaragaman Hayati

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, Biodiversitas bukan sekadar daftar nama hewan dan tumbuhan di buku pelajaran, tetapi sistem penopang kehidupan kita sehari-hari, mereka mempunyai peran ……

1.Penyeimbang Ekosistem Alam (Ekologi): Pohon-pohon di daerah perbukitan dan pedesaan berfungsi sebagai spons raksasa yang menyerap air hujan, sehingga mencegah banjir dan tanah longsor. Selain itu, serangga dan burung berfungsi sebagai penyerbuk alami yang menjaga siklus hidup tanaman sekitar.

2.Sumber Kehidupan (Ekonomi dan Pangan): Semua kebutuhan pokok kita—mulai dari beras, sayur, buah, bahan pakaian, hingga obat-obatan alami (seperti jahe dan temulawak)—berasal langsung dari sumber daya hayati.

3.Laboratorium Belajar yang Bermakna (Meaningful): Alam bebas adalah tempat belajar paling nyata yang memberikan ruang bagi kita untuk mengamati interaksi makhluk hidup secara langsung.

Lalu bagaimana Strategi Pelestarian di Indonesia ?

Untuk mencegah kepunahan spesies, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan Strategi pelestarian Keanekaragaman Hayati, yang mencakup perlindungan ekosistem dan pemulihan spesies terancam. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga terus melakukan upaya nyata, seperti meningkatkan variasi genetik tumbuhan langka agar bisa bertahan hidup.

Secara umum, perlindungan satwa dan tumbuhan dibagi menjadi dua strategi utama:

1. Konservasi In-Situ (Di Dalam Habitat Aslinya)

Pelestarian ini dilakukan langsung di "rumah" asli hewan atau tumbuhan tersebut. Area alaminya dikunci dan dilindungi dari perburuan atau penebangan liar.

Contoh: Taman Nasional Ujung Kulon (melindungi Badak Bercula Satu) dan Cagar Alam Rafflesia (melindungi Bunga Padma Raksasa).

Konservasi In-Situ membiarkan satwa liar hidup bebas, buatan AI

Foto 2 : Konservasi In-Situ membiarkan satwa liar hidup bebas. Sumber: Yayasan IAR Indonesia

2. Konservasi Ex-Situ (Di Luar Habitat Aslinya)

Ketika habitat aslinya sudah rusak akibat pembangunan, kebakaran, atau kondisi spesiesnya terluka parah, satwa dan tumbuhan tersebut "dievakuasi" ke tempat perawatan khusus.

Contoh: Taman Safari, Kebun Binatang, Taman Burung, dan Kebun Raya.

Bagaimana para ilmuwan dan pemerintah mengambil keputusan pelestarian:

Fakta Lapangan: Membangun jalan besar yang membelah hutan dapat memicu Edge Effect (Efek Tepi). Habitat satwa menjadi terpotong belah, menyebabkan hewan terisolasi, kesulitan mencari makan, hingga akhirnya berkonflik dengan manusia di pemukiman.

Berdasarkan hasil kajian :  Spesies disarankan untuk dilindungi langsung di habitat aslinya seperti Taman Nasional atau Cagar Alam, karena kondisi habitat masih mendukung kehidupan alami mereka secara independen.—In situ

3. Aksi Nyata Lewat Gerakan Sekolah (Adiwiyata / PBLHS)

Kamu tidak perlu menjadi menteri untuk mulai melestarikan alam. Di tingkat sekolah, gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) adalah langkah konservasi nyata. Tindakan sederhana seperti mengelola sampah plastik agar tidak meracuni tanah, menghemat air, dan merawat tanaman di lingkungan sekolah sudah berkontribusi langsung menjaga kualitas ekosistem mikro tempat kita belajar.


Sumber Referensi:

-Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Strategi Keanekaragaman Hayati (IBSAP 2025-2045).

-Balai Kliring Keamanan Hayati Kementerian Lingkungan Hidup

-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati.

-Kemdikbudristek. Modul Ajar IPA Biologi Fase E Kelas X: Keanekaragaman Hayati.

Post a Comment

0 Comments